Penelitian menunjukkan bahwa cara kita belajar mencintai di masa kecil membentuk pola hubungan dalam keseharian hingga ke pola hubungan dalam pernikahan. Memahami gaya kelekatan bisa menjadi kunci untuk menciptakan pernikahan yang lebih sehat dan bermakna.

 

BAYANGKAN dua orang yang saling jatuh cinta dan kemudian memutuskan menikah. Mereka sangat optimistis, penuh harapan, dan berjanji untuk saling menjaga seumur hidup. Namun beberapa tahun kemudian, konflik berulang, jarak emosional melebar, dan keduanya merasa tidak lagi dipahami oleh pasangannya. Apa yang terjadi?

Jawabannya sering kali bukan terletak pada cinta yang pudar, melainkan pada sesuatu yang jauh lebih mendasar: gaya kelekatan (attachment style) pada masing-masing pasangan yang dibawanya dari pengalaman masa kecil mereka.

Atau pernahkah kamu merasa terlalu takut ditinggalkan, atau justru lebih nyaman menjaga jarak dengan orang lain? Itu bisa jadi tanda dari attachment style yang terbentuk sejak kecil dan terbawa sampai dewasa.

 

Apa Itu Attachment Style?

 

Teori kelekatan (attachment theory) pertama kali dikembangkan oleh psikiater Inggris John Bowlby pada akhir 1950-an. Bowlby berargumen bahwa manusia secara biologis didorong untuk membentuk ikatan emosional yang kuat dengan pengasuh utama mereka sejak bayi, dan pola ikatan inilah yang membentuk model kerja internal (internal working model) tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan orang lain dalam hubungan (Bowlby, 1982).

Penelitian Mary Ainsworth kemudian mengidentifikasi tiga gaya kelekatan utama pada anak-anak melalui eksperimen Strange Situation: aman (secure), cemas (anxious/preoccupied), dan menghindar (avoidant/dismissing). Hazan dan Shaver (1987) kemudian memperluas teori ini ke konteks hubungan romantis dan menemukan bahwa pola kelekatan masa kecil ini berlanjut hingga dewasa dan secara signifikan memengaruhi kualitas pernikahan.

Mikulincer dan Shaver (2016) memperkuat fondasi ilmiah ini melalui tinjauan komprehensif yang menunjukkan bahwa gaya kelekatan dewasa berfungsi sebagai sistem regulasi emosi — menentukan bagaimana seseorang mencari kedekatan, mengelola stres, dan merespons kerentanan dalam hubungan intim.

Jadi Attachment style atau gaya kelekatan adalah pola hubungan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak melalui interaksi dengan pengasuh utama. Pola ini memengaruhi cara seseorang menghadapi stres, konflik, dan menjalin hubungan di masa dewasa, baik dalam pertemanan, percintaan, maupun kehidupan sosial.

 

Empat Gaya Kelekatan Dewasa dan Dampaknya pada Pernikahan

 

  1. Secure (Aman)

Seseorang dengan gaya kelekatan aman umumnya tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kasih sayang, responsif dan konsisten. Mereka merasa nyaman dengan kedekatan, mampu mengungkapkan kebutuhan dengan jelas, dan tidak takut ditinggalkan. Seseorang dengan secure attachment memiliki pandangan positif terhadap diri dan orang lain, serta lebih mampu menerima diri, sehingga meningkatkan kesejahteraan psikologisnya. Ketika menghadapi permasalahan mereka lebih adaptif, mampu mencari dukungan sosial, dan mengelola emosi dengan baik. Mereka tidak takut bertanya dan meminta pertolongan saat mereka tidak tahu atau mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Christie, K. N., & Sandoval, A. (2024), terkait Attachment styles and traumatic responses menunjukkan bahwa anak-anak dengan secure attachment dapat melakukan adaptasi yang sehat dengan kejadian traumatis dalam hidupnya.

Dalam pernikahan, mereka cenderung membangun komunikasi yang sehat, mengelola konflik dengan konstruktif, dan menciptakan rasa aman bagi pasangan.

  1. Anxious/Preoccupied (Cemas)

Anak yang tumbuh dengan pengasuhan tidak konsisten — kadang responsif, kadang hangat, kadang mengabaikan — atau penuh dengan ketakutan cenderung menghasilkan anxious atau disorganized attachment (IOSR Journals, 2023). Pernah mengalami atau melihat seseorang yang sering kirim chat “lagi di mana?” atau “kok belum balas?” — itu contoh anxious attachment. Mereka butuh kepastian terus-menerus, takut ditinggalkan, dan sering merasa insecure dalam hubungan. Gaya ini ditandai dengan rasa takut ditinggalkan, kebutuhan akan validasi berlebihan, dan kecenderungan bergantung pada pasangan. Mereka cenderung memiliki pandangan negatif terhadap diri, namun memandang positif terhadap orang lain (Bartholomew, K., & Horowitz, L. M., 1991)

Individu ini sangat membutuhkan kepastian cinta dari pasangan, mudah cemburu, dan cenderung menginterpretasikan ambiguitas sebagai ancaman terhadap hubungan. Dalam pernikahan, pola ini kerap memunculkan siklus protes-penarikan (protest-withdrawal cycle) adalah pola konflik yang khas pada pasangan anxious-avoidant yang melelahkan kedua pihak (Mikulincer & Shaver, 2016). Penelitian Ghiasi dkk. (2023) dalam meta-analisis terhadap 13.666 partisipan menemukan bahwa tingkat kecemasan kelekatan yang tinggi secara signifikan berkaitan dengan peningkatan risiko perselingkuhan dalam pernikahan. Perselingkuhan bukan karena tidak cinta — melainkan karena tidak tahu cara lain untuk memenuhi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dalam pernikahan. Bagi individu anxious, perselingkuhan bisa menjadi cara mencari validasi, kepastian, atau perhatian yang tidak ia dapatkan dari pasangan.

  1. Avoidant/Dismissing (Menghindar)

Terbentuk ketika pengasuh secara konsisten tidak responsif terhadap kebutuhan emosional anak. Pola ini terbentuk ketika pengasuh mendorong kemandirian tetapi kurang memberi dukungan emosional. Akibatnya, di masa dewasa mereka sulit membuka diri dan sering menghindari komitmen. Tipe yang lebih nyaman sendiri. Misalnya, saat kumpul bareng, mereka sibuk dengan HP atau memilih diam. Ini tanda avoidant attachment: menjaga jarak, menekan emosi, dan sulit membuka diri.  Anak dengan gaya menghindar cenderung menjaga jarak emosional, menekan perasaan, dan lebih memilih mandiri. Individu ini belajar menekan kebutuhan kedekatan, menghargai kemandirian di atas segalanya, dan merasa tidak nyaman dengan keintiman emosional.

Dalam pernikahan, mereka sering tampak dingin, sulit membuka diri, atau menarik diri ketika konflik memuncak. Studi neurosains oleh Zuckerman dkk. (2024) menunjukkan bahwa individu avoidant menunjukkan pola pemrosesan emosional yang khas pada level otak — area yang terkait dengan kesadaran diri dan produksi bahasa tampak “meredam” aktivitasnya saat dihadapkan pada stimulus emosional.

  1. Disorganized/Fearful (Tidak Terorganisir)

Gaya ini merupakan campuran antara anxious dan avoidant. Paling sering dikaitkan dengan pengalaman trauma, pengasuhan yang penuh dengan ketakutan atau pengabaian berat di masa kecil. Main dan Hesse (1990) mengaitkan gaya ini dengan pengalaman kehilangan atau trauma yang belum terselesaikan pada figur pengasuh. Berbeda dengan anxious yang mendekat berlebihan atau avoidant yang menjauhi — disorganized tidak punya strategi yang konsisten. Mereka tidak punya peta untuk menavigasi kedekatan emosional. Menginginkan hubungan yang dalam, tapi panik saat hubungan itu terjadi, sulit menjelaskan apa yang mereka rasakan, bahkan kepada diri sendiri. Mudah dissosiatif saat konflik — tiba-tiba “mati rasa” atau merasa seperti di luar tubuhnya sendiri. Sering merasa tidak layak dicintai, tapi juga tidak percaya orang lain benar-benar bisa mencintainya.Respons emosi yang tidak proporsional — bisa sangat meledak lalu tiba-tiba dingin.

Sering kita melihat pola pasangan  tipe ini, campuran antara cemas dan menghindar. Individu dengan pola ini kadang ingin dekat, tapi tiba-tiba menjauh. Hubungan mereka sering terasa “bingung” dan tidak konsisten. Mereka menginginkan kedekatan sekaligus takut dengan keintiman, sehingga perilakunya tidak konsisten dan menciptakan pola hubungan yang tidak menentu serta sering kali konflik tinggi. Dalam hubungan dewasa, pola ini sering menimbulkan konflik batin dan ketidakstabilan.  Penelitian terbaru dari Turki (Gürbüz dkk., 2025) mempertegas bahwa trauma masa kecil merupakan prediktor signifikan terhadap rendahnya kepuasan pernikahan.

 

Bagaimana Attachment Style Membentuk Dinamika Pernikahan?

 

Penelitian longitudinal oleh Davila dkk. (1999) menunjukkan bahwa gaya kelekatan merupakan prediktor signifikan terhadap kepuasan pernikahan. Pasangan yang memiliki gaya kelekatan aman menunjukkan tingkat kepuasan tertinggi dalam pernikahan, kemampuan menyelesaikan konflik yang lebih baik, dan hubungan yang lebih stabil.

Temuan menarik juga dari penelitian Jones dkk. (2015) berupa meta-analisis besar yang mengonfirmasi bahwa kelekatan aman secara konsisten berhubungan positif dengan berbagai dimensi kualitas hubungan — termasuk kepercayaan, kepuasan, komitmen, dan kapasitas resolusi konflik. Studi ini menjadi salah satu tinjauan paling komprehensif yang menghubungkan kelekatan dengan berbagai luaran hubungan romantis.

Kombinasi yang paling umum dan paling bermasalah adalah pasangan anxious-avoidant, yang dikenal dengan istilah anxious-avoidant trap. Pihak yang anxious semakin mendekat ketika merasa terancam, sementara pihak yang avoidant semakin menarik diri. Studi komputasional terbaru oleh Hermans dkk. (2026) menunjukkan bahwa perbedaan gaya kelekatan menciptakan pemisahan emosional yang progresif jika tidak ditangani secara sadar. Progresif yang dimaksud adalah siklus yang berulang: pasangan anxious mencari kedekatan yang lebih intens, sehingga pasangan avoidant semakin menjauh. Kondisin ini menciptakan distres lebih besar bagi yang anxious, dan semakin mengintensifkan upaya pendekatannya. Pada akhirnya mengarah pada keretakan, dan menciptakan jarak dalam hubungan. Bahkan setelah jarak itu tercipta, pasangan avoidant kemudian menginisiasi kedekatan kembali — dan siklus berulang dari awal.

Susan Johnson, pengembang Emotionally Focused Therapy (EFT), menegaskan bahwa dibalik setiap pertengkaran dalam pernikahan terdapat pertanyaan kelekatan yang lebih dalam: “Apakah kamu ada untukku? Apakah aku penting bagimu?” Sebuah meta-analisis komprehensif oleh Spengler dkk. (2024) menunjukkan 70% pasangan mencapai pemulihan hubungan yang signifikan setelah terapi — dan efek ini bertahan hingga dua tahun pasca-intervensi.

 

“Kita tidak mencintai dengan cara yang kita pilih, kita mencintai dengan cara yang kita pelajari.” — Susan M. Johnson

 

Peran Responsivitas Pasangan dalam Mengubah Pola Kelekatan

 

Penelitian terbaru menyoroti bahwa kelekatan dalam pernikahan bukan sekadar warisan masa lalu — ia juga dibentuk secara aktif oleh pengalaman bersama pasangan saat ini. Studi yang dipublikasikan di Research Square (2025) menemukan bahwa persepsi responsivitas pasangan — seberapa besar seseorang merasa pasangannya memahami, menghargai, dan merespons kebutuhannya — secara signifikan dipengaruhi oleh gaya kelekatan dalam membentuk kualitas pernikahan.

Artinya, pasangan yang secara konsisten hadir dan responsif tidak hanya meningkatkan kepuasan pernikahan, tetapi juga secara bertahap menggeser gaya kelekatan yang tidak aman ke arah yang lebih aman. Inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai proses “co-regulation” — pengaturan emosi bersama yang berlangsung melalui interaksi sehari-hari di dalam pernikahan (Hallquist dkk., 2021).

 

Apakah Attachment Style Bisa Berubah?

 

Kabar baiknya: ya. Attachment style bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Konsep earned security — atau kelekatan aman yang diperoleh — menunjukkan bahwa seseorang yang tumbuh dengan kelekatan tidak aman tetap bisa mengembangkan gaya kelekatan yang lebih sehat melalui pengalaman hubungan yang korektif, psikoterapi, atau hubungan romantis yang konsisten dan aman.

Penelitian Vasquez-Salcedo dan Natividad (2025) menambahkan dimensi penting: kecerdasan emosional berperan sebagai faktor pelindung yang memperlemah dampak gaya kelekatan tidak aman terhadap kepuasan pernikahan. Individu dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu mengenali kebutuhan kedekatannya sendiri dan pasangannya, sehingga lebih fleksibel dalam merespons konflik meskipun memiliki gaya kelekatan yang tidak ideal.

Studi Ruvolo dkk. (2001) sebelumnya telah menunjukkan bahwa kualitas hubungan romantis itu sendiri dapat menggeser gaya kelekatan seseorang dari waktu ke waktu — menegaskan bahwa pasangan yang saling berkomitmen untuk hadir secara emosional bisa menjadi agen perubahan satu sama lain.

 

Langkah Praktis untuk Pasangan

 

Memahami gaya kelekatan diri sendiri dan pasangan adalah langkah pertama yang sangat berharga. Beberapa hal yang dapat dilakukan pasangan:

  • Kenali pola reaksi Anda saat merasa tidak aman dalam hubungan — apakah Anda mendekat secara berlebihan, atau justru menarik diri?
  • Komunikasikan kebutuhan emosional dengan bahasa yang jelas dan tenang, bukan melalui perilaku yang menekan atau menghindar.
  • Latih responsivitas aktif: hadir secara emosional ketika pasangan membuka diri, bahkan pada hal-hal kecil.
  • Pertimbangkan konseling pernikahan jika siklus konflik terasa stagnan dan berulang.
  • Mencari buku atau referensi yang bisa dipelajari bersama pasangan.

 

Pernikahan yang sehat bukan berarti pernikahan tanpa konflik atau tanpa luka masa lalu. Pernikahan yang sehat adalah pernikahan di mana dua orang berani melihat luka itu bersama-sama, dan memilih untuk terus hadir satu sama lain.

 

 

REFERENSI

Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of Attachment: A Psychological Study of the Strange Situation. Lawrence Erlbaum.

Bowlby, J. (1982). Attachment and Loss, Vol. 1: Attachment (2nd ed.). Basic Books.

Davila, J., Karney, B. R., & Bradbury, T. N. (1999). Attachment change processes in the early years of marriage. Journal of Personality and Social Psychology, 76(5), 783–802.

Hazan, C., & Shaver, P. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52(3), 511–524.

Johnson, S. M., Hunsley, J., Greenberg, L., & Schindler, D. (1999). Emotionally focused couples therapy: Status and challenges. Clinical Psychology: Science and Practice, 6(1), 67–79.

Main, M., & Hesse, E. (1990). Parents’ unresolved traumatic experiences are related to infant disorganized attachment status. In M. T. Greenberg, D. Cicchetti, & E. M. Cummings (Eds.), Attachment in the Preschool Years (pp. 161–182). University of Chicago Press.

Ruvolo, A. P., Fabin, L. A., & Ruvolo, C. M. (2001). Relationship experiences and change in attachment characteristics of young adults. Personal Relationships, 8(3), 265–281.

Ghiasi, N., Rasoal, D., Haseli, A., & Feli, R. (2023). The interplay of attachment styles and marital infidelity: A systematic review and meta-analysis. Heliyon, 9(12), e23261. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e23261

Gürbüz, E. E., Avcı, M., Çolakkadıoğlu, O., & Demir, S. (2025). Childhood trauma and attachment styles as predictors of marital satisfaction: A psychosocial perspective from Türkiye. SDGsReview, 5, e06802.

Hallquist, M. N., et al. (2021). Dispositional attachment style moderates the effects of physiological coregulation on short-term changes in attachment anxiety and avoidance. Personality Disorders: Theory, Research, and Treatment, 12(6), 570–580. https://doi.org/10.1037/per0000472

Hermans, T., Bosse, T., & Treur, J. (2026). Relationship dynamics between anxious and avoidant attachment styles: Computational analysis and AI-generated video creation. Cognitive Systems Research. https://doi.org/10.1016/j.cogsys.2026.101379

Johnson, S. M. (2019). Attachment Theory in Practice: Emotionally Focused Therapy (EFT) with Individuals, Couples, and Families (2nd ed.). Guilford Press.

Jones, J. D., Cassidy, J., & Shaver, P. R. (2015). Adult attachment security and various relationship outcomes: A meta-analysis. Social and Personality Psychology Compass, 9(6), 272–289.

Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2016). Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics, and Change (2nd ed.). Guilford Press.

Spengler, P. M., Lee, N. A., Wiebe, S. A., & Wittenborn, A. K. (2024). A comprehensive meta-analysis on the efficacy of emotionally focused couple therapy. Couple and Family Psychology: Research and Practice, 13(2), 81–99.

Vasquez-Salcedo, M. Z. B., & Natividad, M. J. (2025). Emotional intelligence, attachment style, and marital satisfaction among married employees. Journal of Interdisciplinary Perspectives, 3(2), 56–73.

Zuckerman, I., Laufer, I., & Mizrahi, D. (2024). Attachment style, emotional feedback, and neural processing: Investigating the influence of attachment on the P200 and P400 components of event-related potentials. Frontiers in Human Neuroscience, 18. https://doi.org/10.3389/fnhum.2024.1406968